Bukit Bulan : Mutiara yang Tersembunyi

Jum, 12/30/2016 - 15:23 admin

Ungkapan itu sangat tepat untuk menggambarkan Bukit Bulan. Bukit ini terletak di Katingan bagian selatan, tepatnya di Desa Tumbang Bulan Kec.Mendawai, dibawah pengelolaan Taman Nasional Sebangau. Untuk mencapai Bukit Bulan dapat ditempuh selama 2-3 jam mengendarai longboat dari Tumbang Bulan unuk singgah di camp WWF di Muara Beruang, dari sana lanjut lagi dengan longboat menuju Pangkalan Damar selama kurang lebih satu jam. Di Pangkalan Damar inilah petualangan dimulai.
Sebelumnya kami sama sekali tidak mengira bakal menembus rawa gambut di Ekspedisi Bukit Bulan ini, sebelumnya hanya gambaran berjalan dihamparan batang kayu sisa kebakaran setahun silam. Tetapi ternyata hal itu terjadi. Masuk Pangkalan Damar Long Boat tidak bisa merapat, keputusannya semua peserta harus turun. Akhirnya semua peserta terjun bebas ke rawa gambut yang kedalamannya berkisar sedalam lutut sampai pinggang.



Bergerak dari Pangkalan Damar

Setelah 20 menit berkubang menyeberangi rawa gambut, sampailah kami di tantangan yang sebenarnya, didepan terhampar batang-batang pohon kering yang bergelimpangan. Tak nampak dimanakah ujungnya. Inilah yang tersisa dari musibah kebakaran besar tahun 2015. Batang-batang pohon berbagai ukuran dari sebesar paha hingga ada yang berdiameter hampir satu meter, mati tergeletak dan kering diatas rawa gambut yang saat itu sedang basah.Satu-satunya cara menembus hutan gambut yang rusak ini hanya dengan  meniti batang-batang pohon kering yang berserakan itu, menguap sudah target empat jam menuju Puncak Bukit Bulan dari Pangkalan Damar.
Lokasi ini sangat jauh dari pemukiman dan aktivitas manusia, dapat diperkirakan , kebakaran itu mungkin terjadi secara alami namun bukan berarti lepas dari faktor manusia. Saat kemarau panjang tiba seperti tahun 2015, permukaan air di T.N. Sebangau rentan sekali surut dan kering, hal ini terjadi karena banyaknya kanal-kanal pelepasan air sisa-sisa zaman logging dan kanal-kanal baru proyek sejuta lahan gambut. Dapat dibayangkan ketika gambut kering dan terjadi percikan api, maka kebakaran hebat tentu tidak bisa dihindari. Maka kedepan Canal Blocking harus diperbanyak  untuk mempertahankan permukaan air di T.N. Sebangau.

Ditengah matahari yang terik, kami meniti batang pohon itu satu-satu. Tak ada tempat yang layak untuk benar-benar berteduh. Sebagian peserta yang beruntung dapat memulihkan tenaga dengan duduk di bawah bongkahan akar yang besar, sebagian lagi rela duduk menggantung kaki di batang-batang pohon tumbang diluar jalur yang dilewati. Hari itu memang berat, setelah  menguras tenaga mengarungi rawa, maka kini harus berjalan dengan menjaga keseimbangan kaki dan badan sambil membawa beban tas carrier di punggung.
Beberapa peserta memutuskan menembus hamparan batang pohon itu dengan kaki telanjang, mulanya memang terasa ringan dan mudah menjaga keseinbangan badan, tapi lama kelamaan saat tergelincir sungguh menyakitkan, sebab adakalanya dibawah telah menanti tonggak kayu yang tersembunyi ditutupi lumpur gambut. Persediaan minum pun sudah habis, maka botol minuman kami isi dengan air gambut ditempat-tempat yang terlindung, serasa membawa botol minuman yang berisi air teh.



Meniti Rebahan Batang Kayu

Perjalanan menembus hamparan batang pohon ditempuh selama 4-7 jam, tiap peserta bergerak dengan kecepatan masing-masing mengikuti tanda berupa bendera kuning yang dipasang oleh panitia. Pukul 17.00 kami berhasil menyentuh kaki bukit Bulan tepatnya di mata air di kaki bukit. Airnya bening dan segar, sehingga beberapa orang memutuskan mandi dan mengisi tempat persediaan air.
Sungguh luar biasa rasanya, rindu tanah yang terobati. Selama perjalanan dalam hati ini begitu merindukan melihat tanah, sebab empat setengah jam berjalan itu melulu hanya melihat rebahan batang pohon dan menitinya hati-hati. Maka saat melihat gundukan tanah ada rasa syukur yang luar biasa.

Karena sudah mulai gelap, kami memutuskan berhenti di Pos 2 di kaki bukit, sepelemparan batu dari posko panitia kami membuat tenda panggung untuk merebahkan diri malam itu. Dilokasi itu setidaknya ada empat tenda bersama rekan-rekan peserta dari kepolisian dan mapala. Berdasarkan informasi dari panitia, di puncak Bukit sudah over load dengan peserta yang terlebih dulu sampai.  Pagi harinya pukul 05.00 pagi sebagian peserta bergerak menuju bukit untuk menikmati sun rise.



Vegetasi Bukit Bulan dari Lereng Bukit

Bukit Bulan ini memang unik, seolah mengapung di tengah-tengah lahan gambut. Bila diamati tapak bukit ini, pada awalnya mungkin berupa batu, yang sebagian selama ribuan tahun melapuk menjadi tanah, sehingga pohon-pohon yang tumbuh disana diperkirakan sudah berusia ribuan tahun. Dibuktikan dengan tebing-tebing batu yang terekspos di beberapa sisi lereng Vegetasi di Bukit Bulan didominasi Dipteraceae, ditemukan pohon Ulin, Meranti, Keruing dan damar dengan diameter sekitar 40-50 cm. Tidak ditemukan tunggul-tunggul kayu bekas penebangan hutan di jaman logging yang acapkali ditemukan pada hutan yang telah mengalami suksesi karena penebangan, diperkirakan hutan di Bukit Bulan ini salah satu yang lepas dari jamahan penebangan hutan di waktu lampau. BIla berkeliling keluar dari jalur pendakian kita dapat menemukan sarang-sarang orang utan dan bekantan. Beberapa tumbuhan khas kalimantan pun dapat ditemukan secara melimpah, diantaranya Akar Sutra, Saluang Belum, dan Pasak Bumi. Menurut informasi dari rekan WWF yang kami temui diperjalanan, di hutan Bukit Bulan banyak pula ditemukan beberapa spesies Anggrek dan tumbuhan ajaib, apa itu? Tanaman Cabe hutan yang diameternya sebesar paha orang dewasa. Sayang, karena terbatasnya waktu di hutan, kami tidak bisa mengeksplorasi membuktikan kebenaran berita itu (iogy)