Bupati Katingan: Merawat Nasionalisme dari Puncak Bukit Raya

Sab, 04/23/2016 - 10:57 admin
Upacara Bendera 17 Agustus  Di Puncak Bukit Raya

Bupati Katingan H. Ahmad Yantenglie berkomitmen kuat membawa Katingan sebagai penjaga bumi Borneo sebagai paru-paru dunia. Komitmen itu nampak dari terlaksananya dua event besar  yakni Launching Konservasi Katingan Untuk Borneo-Ekspedisi Bukit Raya (2014) dan ekspedisi Jelajah Wisata Budaya bersama 1000 jurnalis (2015). Event semacam ini agaknya tidak akan berhenti, tahun ini event serupa akan diselenggarakan di lokasi yang berbeda, Bila  dua event sebelumnya terselenggara di kompleks Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, maka tahun 2016 ini event serupa diselenggarakan di kompleks Taman Nasional Sebangau dengan susur sungai dan ekspedisi bukit Bulan/bukit Kaki. Dalam setiap penyelenggaraan event tersebut Bupati Katingan selalu berdiri digarda depan, dengan terjun langsung memimpin pelaksanaan event hingga berakhir. Terakhir  beliau mengikuti ekspedisi Jelajah Wisata Budaya bersama 1000 jurnalis (2015) bersama Istri ibu Endang Susilawatie. Ini adalah event kelas dunia, untuk mengajak partisipasi segenap masyarakat dunia untuk peduli dengan paru-paru dunia.

Bupati Katingan memimpin langsung pendakian
Bupati Katingan memimpin langsung pendakian

Ditengah berbagai perambahan hutan, illegal logging dan permasalahan tata ruang yang belum akan selesai, Kalimantan masih menyimpan bentangan Hutan Hujan Tropis yang menjadi penyangga dunia. Pulau Kalimantan (Borneo) adalah  paru-paru dunia. Konservasi hutan menjadi pilihan yang logis sebagai kontribusi utama  Kabupaten Katingan bagi Indonesia bahkan bagi dunia internasional. Mengingat potensi geografis Kabupaten Katingan begitu luar biasa. Katingan terletak tepat dijantung Borneo, titik central Indonesia.

Di bumi Penyang Hinje Simpei (bahasa Dayak Ngaju) yang artinya hidup rukun dan damai untuk kesejahteraan bersama ini, kepedulian lingkungan telah diteriakkan dengan lantang bukan dalam bahasa retoris, namun sudah digulirkan dalam bahasa kebijakan, Bupati Katingan Ahmad Yantenglie pada tahun 2014 meluncurkan gerakan “Konservasi Katingan untuk Borneo” dan “Kasongan Kota Hijau”. Kota Kasongan sendiri merupakan ibukota Katingan. Langkah ini untuk mencapai visi Katingan yaitu Cerdas, Sehat, Terbuka. “Aspek lingkungan menjadi basis dari semua proses pembangunan di Katingan,” sebut H. Ahmad Yantenglie. Pemkab Katingan menjadikan 37,7 persen lahan dari total luas wilayah sebesar 17.800 km2 sebagai daerah konservasi. Luas kawasan hutan di wilayah Kabupaten Katingan mencapai 1.788.839 Ha atau 88,62% dari luas wilayah dan merupakan satu-satunya kabupaten di Indonesia yang memiliki 2 taman nasional (Taman Nasional Bukit Raya - Bukit Baka dan Taman Nasional Sebangau), berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, Kabupaten Katingan mencanangkan Kawasan Lindung 44.301,39Ha, Kawasan Budidaya Kehutanan seluas 892.218 Ha dan hutan pendidikan yang dikelola Universitas Palangka Raya seluas 5 ribu hektare. Hal ini menunjukkan komitmen pada kelestarian alam bukan isapan jempol belaka. Sedangkan target menjadikan Kasongan Kota Hijau dibuktikan dengan keberadaan Kebun Raya Katingan seluas 127 hektare. Selanjutnya sedang dipersiapkan hutan kota seluas 126 hektare yang meliputi kiri dan kanan sungai Sala yang membelah Kasongan. Selain itu, saat ini sedang dipersiapkan peraturan daerah (Perda) tentang alokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Ekspedisi Jelajah Wisata Budaya 1.000 Jurnalis, merupakan rangkaian kegiatan Tiwah Massal, Upacara Adat, Penanaman Pohon dan pendakian Bukit Raya yang memiliki ketinggian 2.278 meter diatas permukaan laut. Dalam kegiatan ini, Bupati dan istri berhasil mencapai puncak bukit sekaligus menancapkan bendera Merah Putih saat HUT RI ke-70 tahun, Agustus 2015 lalu. Diperlukan waktu 4 hari untuk mencapai puncak bukit itu



Walau sekedar Bukit, Bukit Raya merupakan satu dari seven summit di Indonesia. Puncak Bukit Raya adalah puncak  tertinggi  rangkaian pegunungan Muller-Schwanner di Kalimantan yang  berada di Indonesia. Puncak tertinggi pegunungan Muller-Schwanner  terletak di Kinibalu Malaysia. Bukit Raya terletak perbatasan Kalbar dan Kalteng dan merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Konon, dari sinilah berasal seluruh air sungai besar Kalimantan seperti Barito, Mahakam, dan Kapuas. Sehingga sering dijuluki dengan
Danum Kaharingan Dehum (bahasa Dayak) yang artinya air sumber kehidupan.

Bukit Raya disebut sebagai lansekap dengan  Hutan Hujan Tropis salah satu yang tertua di dunia. Medan pendakian Bukit Raya terbilang berat bahkan disebut yang terberat setelah puncak Cartenz. Pasalnya, tidak hanya dibutuhkan stamina yang prima, namun juga harus punya nyali dan mental kuat. Kondisi track yang cukup ekstrim, sehingga harus ekstra hati-hati. “Kalau salah sedikit kita mendaki, bisa mengorbankan nyawa jatuh kejurang dari ketinggian, sebab kontur Bukit Raya bentuknya pipih,” ungkap Bupati Katingan

Bukit Raya kaya  dengan keindahan flora dan fauna endemik. Salah satunya, berbagai jenis anggrek yang banyak ditemukan di lembah-lembah bukit. Selain itu, juga ada medan arung jeram dikaki bukit. Kegiatan ekspedisi yang berlangsung mulai 8 – 23 Agustus itu bersifat umum yang diikuti jurnalis dari berbagai media dan daerah. Dibantu pula oleh kelompok mahasiswa pecinta alam (Mapala) dari banyak kampus di Tanah Air. Ekspedisi Jelajah Wisata Budaya 1.000 Jurnalis itu diisi pula dengan kegiatan Tiwah Massal. Upacara adat Dayak Tiwah itu digelar di Desa Tewang Rangas, Kecamatan Tewang Sanggalang Garing Kabupaten Katingan. Upacara Tiwah ini merupakan ritual untuk meluruskan perjalanan almarhum menuju lewu tatau (surga dalam Bahasa Sangiang). Sehingga arwah yang bersangkutan bisa menjalani dengan tenteram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, ritual adat Tiwah merupakan prosesi suku Dayak untuk melepas kesialan bagi keluarga almarhum
yang ditinggalkan. Yakni, dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa. Pelaksanaan Upacara Tiwah massal ini merupakan wujud kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai dan kekayaan budaya khususnya yang ada di Kabupaten Katingan yang telah berlangsung sejak zaman nenek moyang (iogy-dari berbagai sumber)