Problematika Sampah Plastik

Kam, 08/10/2017 - 09:43 admin

Plastik menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa dielakkan, hampir semua jenis aktivitas, pasti menggunakan plastik apapun jenisnya. Beberapa jenis plastik yang kita kenal antara lain PolyEthylene Terephthalate (PET), High Density PolyEthylene (HDPE), Polyvinyl Chloride (PVC), Low Density PolyEthylene(LDPE),PolyPropylene(PP). Jenis plastik yang sering ditemukan adalah PET yang digunakan sebagai bahan baku botol air mineral, LDPE yang digunakan sebagai bahan baku kantong kresek dan PP yang digunakan sebagai gelas air mineral. Plastik dalam berbagai jenis sebenarnya telah memudahkan banyak aktivitas menusia, namun sampah plastik menjadi permasalahan besar karena pasca penggunaan, plastik tidak dikelola.

Dibalik manfaatnya, plastik menyimpan banyak potensi yang berbahaya bagi lingkungan. Bila dibuang tanpa pengelolaan di lingkungan, plastik akan mengganggu kesuburan tanah  bahkan dapat meracuni tanah. Ingat, plastik tidak dapat diurai, dekomposisi plastik oleh alam dapat mencapai ratusan tahun. US National Park Service pada tahun 2010 merilis data perbandingan dekomposisi plastik, plastik botol minuman dalam kemasan tercatat memakan waktu paling lama terdekomposisi yaitu selama 450 tahun, dan plastik kresek, membutuhkan waktu 10-20 tahun untuk terurai. Jadi selama itulah plastik akan menjadi beban lingkungan. Dapat dibayangkan bila penggunaan plastik yang begitu masiv dan penimbunan sampah plastik yang nyaris tanpa pengelolaan terus dilakukan, maka entah kapan permasalahan  plastik ini akan selesai, tentu akan menjadi beban bagi masa depan manusia yang akan datang.



Salah satu senyawa yang berbahaya adalah BPA (bisphenol A), adalah monomer dari plastik jenis Polycarbonat (PC) dan bahan pembuatan epoksi resin yang dipakai untuk melapis plastik jenis selain PC/kaleng aluminium agar tidak korosif dan tidak bereaksi dengan bahan pangan yang dikemasnya. BPA dalam bentuk bebas bersifat mudah larut dalam lemak, namun dalam proses metabolisme hati sifatnya dapat dirubah menjadi mudah larut dalam air. Bila BPA tertelan melalui pangan, dalam bentuk aktifnya senyawa BPA dapat memiliki aktivitas hormon estrogen (hormon perangsang reproduksi), selain itu BPA merupakan senyawa endokrine disruptor yang dapat mengganggu sekresi, kerja dan metabolisme alami hormon.  BPA dapat masuk dalam tubuh melalui rute kontak kulit,

Bahaya plastik yang dibuang di lingkungan, akan menyebabkan berkurangnya tingkat kesuburan tanah, sampah plastik dapat menutup permukaan tanah dan mengganggu sistem pertukaran udara tanah, selain itu keberadaan plastik akan mengurangi populasi mikrobakteri pengurai serta merubah komposisi bakteri pengurai yang berfungsi menjaga kesuburan tanah. Sampah plastik dapat menyebabkan penyumbatan saluran air, sehingga dapat memicu bencana banjir. Sampah plastk juga menjadi permasalahan di perairan laut, dari seluruh sampah dipantai, 57% merupakan sampah plastik, dan di perairan, 75% laut kita dalam kondisi sangat tercemar, dan sebagian sumber pencemaran adalah sampah plastik.

Sampah plastik juga menjadi penyumbang polusi udara. Beberapa pihak telah menerapkan pembakaran sampah untuk mengendalikan tumpukan sampah dii tempat pembuangan sementara, dan tempat pembuangan akhir. Diantara sampah yang dibakar hampir lebih dari separuhnya adalah sampah plastik. Pembakaran plastik dengan suhu rendah menyebabkan emisi karbon, serta terjadi pelepasan berbagai komponen zat kimia yang berbahaya ke udara bebas.Beberapa kajian menyebutkan banyak dari zat penyusun plastik bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) bila terlepas diudara.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan sampah plastik. Ditingkat regulasi UU No 18 tahun 2008 pasal 15,  Pemerintah telah mengatur kewajiban produsen. Pasal tersebut berbunyi : Produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksi yang tak dapat/sulit terurai oleh proses alam. Pengelolaan oleh produsen dikenal dengan  Extended Producer Responsibility (EPR). EPR atau tanggung jawab produsen  secara berkelanjutan adalah prijnsip kebijakan perlindungan lingkungan untuk mengurangi dampak lingkungan yang berasal dari siklus hidup produk dengan memperluas tanggung jawab produsen atas siklus hidup produknya dengan penarikan kembali dan pemusnahan akhir dari sisa produk tersebut pasca penjualan (Lindhqvist, 2006). Dengan demikian perlu ada kesadaran dari dunia usaha dalam menyikapi ketentuan ini.

Ditingkat masyarakat, pengelolaan sampah didorong untuk menerapkan prinsip 3 R (Reduce, Re-Use dan Recycle). Berbagai upaya telah dilakukan untuk Reduce (mengurangi) penggunaan plastik, atau minimal mengurangi timbulan sampah plastik, salah satunya yang pernah ditempuh oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan program plastik berbayar, namun sekali lagi upaya tersebut masih belum  berhasil. Kampanye-kampanye penyadartahuan harus tetap dilakukan setidaknya agar masyarakat memahami bagaimana cara menggunakan dan mengelola plastik secara benar dan ramah lingkungan, dengan demikian masyarakat memiliki kebiasan dan perilaku yang baru dalam menggunakan plastik, dan mengelolanya setelah penggunaan.

Penggunaan kembali sampah plastik (re-use) telah banyak di pelopori oleh para pecinta lingkungan, banyak cara untuk menggali ulang manfaat dari plastik. Pada umumnya outcome dari kegiatan ini berupa kerajinan-kerajinan dari bahan baku sampah plastik, misalnya tas belanja dari bungkus sachet minuman instan, tempat lampu dari botol minuman, hiasan bunga dari tas kresek. Bank Sampah yang berhasil di beberapa kota menggunakan strategi ini untuk meningkatkan nilai tambah dari sampah plastik yang dikelola, sehingga neraca kas nya bertambah untuk peningkatan anggota bank sampah. Upaya ini sangat baik, namun belum mampu memecahkan masalah timbulan plastik secara  menyeluruh. Dasar dari permasalahan belum seluruhnya tersentuh, karena setelah masa pakai dari barang baru hasil re-use, maka akan kembali menjadi sampah plastik. Jadi re-use hanya menambah masa pakai dari plastik dengan cara konversi penggunaan, namun setelah habis masa pakainya maka akan kembali menjadi sampah plastik.

Salah satu pihak yang wajib melakukan re-cycle sampah plastik, adalah produsen yang memproduksi bahan jadi tersebut, seperti yang sudah diuraikan diatas dengan skenario EPR (Extended Producer Responsibility), namun pemerintah dan masyarakat umum dapat pula berperan dalam proses re-cycle sampah plastik. Peran ini secara mikro sebenarnya sudah diambil oleh para pemulung,  bahkan berton-ton sampah plastik sudah dikirim dari pulau kalimantan ke Jawa tempat pengolahan akhirnya. Dengan kemajuan teknologi, strategi re-cycle ini sebenarnya bisa dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat Kabupaten Katingan, bila dapat memilah teknologi yang tepat dan melibatkan stakeholder lintas sektor.

Timbulan sampah plastik kota kasongan (hanya meliputi Kasongan Baru dan Kasongan Lama -belum termasuk Desa Hampalit, Kecamatan Pendahara dan Kec. Tasik Payawan) sebesar 1.900,97 kg/hari (BLH Katingan, 2014).  Hanya berupa sampah plastik, namun sudah hampir 2 ton per hari, setara dengan satu bak mobil  pick up, dengan sentuhan teknologi  bila dapat di re-cycle menjadi sebuah produk maka dapat menjadi solusi baru dari Problematika Sampah Plastik, khususnya di Kota Kasongan. (iogy)