RE-CYCLE : MENYULAP SAMPAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR SERUPA BENSIN/SOLAR

Rab, 01/10/2018 - 15:36 admin

Sebagai produk yang fleksibel dan tahan lama, plastik bisa dibilang telah mendominasi sebagai bahan berbagai peralatan dan perabotan yang digunakan oleh manusia, pasca penggunaan maka sampah plastik yang dihasilkan tentu saja tidak kalah menggunung. Menurut perhitungan Kementerian Lingkungan Hidup (2008), jumlah sampah plastik penduduk indonesia setiap harinya sebesar 23.600 ton dan diproyeksikan pada tahun 2018  sampah plastik akan menumpuk hingga 9,52 juta ton atau setara dengan berat 1,5 juta gajah dewasa. Impor plastik dan barang dari plastik sepanjang Januari-Juli tahun 2011 melonjak 46% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, karena tingginya permintaan terhadap bahan baku plastik di dalam negeri.

Timbulan plastik kota kasongan pun tidak kalah besarnya. Menurut BLH Kab, Katingan (2014) Timbulan Sampah plastik kota kasongan sebesar 1.900 kg/hari, sekitar 14% dari total timbulan sampah.  Bila dihitung maka dalam setahun akan terkumpul hampir 700 ton sampah plastik. Paradigma baru yang diamanatkan oleh UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, bahwa sampah adalah sumber daya, maka 700 ton sampah plastik per tahun di Kota Kasongan, adalah sumber daya yang menunggu sentuhan tangan agar bisa berubah menjadi sumber daya yang siap pakai.

Teknologi membuat semua menjadi mudah, demikian juga dalam menangani sampah, pemanfaatan teknologi membuat segalanya menjadi mungkin. Sampah dari berbagai jenis plastik dapat diproses menjadi Bahan Bakar Minyak sekelas Bensin dan Solar. Teknologi yang digunakan adalah dengan teknik Pyrolisis.

Pyrolisis/destilasi kering adalah proses penguraian thermokimia dengan suhu tinggi tanpa oksigen, suhu yang digunakan dalan proses ini berkisar antara 200-300oC. Sampah plastik merupakan polimer hidrokarbon dengan rantai yang sangat panjang, proses pyrolisis ini memotong rantai-rantai polimer sehingga berubah kembali menjadi minyak. Tidak semua sampah plastik yang di proses dengan pyrolisi berubah menjadi minyak. Rendemen minyak yang dihasilkan dari satu daur proses berkisar antara 70-85%, hasil samping dari pyrolisis adalah arang aktif yang dapat digunakan sebagai bahan baku briket arang.

Pyrolisis/Destilasi Kering terbilang bukan teknologi biaya tinggi. Sampah Plastik dipanaskan diatas titik leburnya sehingga berubah menjadi uap, proses pemanasan ini menyebabkan perekahan pada rantai polimer menjadi potongan molekul yang lebih pendek, selanjutnya sampah plastik dalam fase uap ini didinginkan menjadi fase cair, cairan ini merupakan bahan dasar minyak. Minyak ini kemudian didestilasi ulang dengan temperatur yang berbeda, mengacu pada titik uap bensin atau solar. Bila suhu pemanasan yang digunakan pada destilasi kedua diatas 100oC, yang dihasilkan setelah proses pengembunan uap adalah zat yang mendekati atau memiliki unsur sama dengan premium. Proses akhirnya adalah refinery, dengan mencuci, menambah aditif, dan mereduksi kandungan zat beracun.

Tri Handoko, seorang pengajar listrik dasardan elektrolisi di SMKN 3 Kota Madiun telah mengembangkan alat pyrolisis. Berawal dari kegelisahan pemegang gelar Master Mekatronika ITS Surabaya ini terhadap tumpukan limbah sampah di TPS kota Madiun, dengan bekal pengetahuan mengenai  hidrokarbon yang beliau dapat saat bergabung dalam tim peneliti BBM berbahan dasar air tahun 2008, beliau melakukan rekayasa reaktor pengolahan sampah plastik menjadi BBM dengan prinsip kerja pyrolisis.

Teknologi tidak selalu mahal, harga reaktor yang dibuat oleh Tri Handoko berkisar  Rp. 650.000 hingga 100 juta tergantung kapasitas limbah yang akan diolah. Alat terdiri atas saluran intake sampah ke tangki reaktor, bahan bakar yang digunakan bisa berupa kayu, gas elpiji atau gas metan hasil pengolahan sampah. Untuk menangkap uap, tangki reaktor dihubungkan dengan dua kondensor yang dihubungkan dengan pipa besi tahan panas. Selanjutnya pada setiap kondensor dipasang pipa yang menyalurkan minyak yang di tangkap ke botol penampungan, untuk kemudian masuk ke proses refinery. Satu kilogram limbah plastik dapat menghasilkan 1 liter minyak mentah, ketika diolah menjadi premium atau solar maka rendemennya sekitar 0,8-0,9 liter. Kotoran yang melekat pada plastik serta jenis plastik yang diolah sangat mempengaruhi volume minyak yang dihasilkan.

Dengan rendemen bahan banding produk sebesar 1:0,8-0,9 maka sesungguhnya teknologi ini sangat menarik untuk diterapkan. Dengan produksi sampah plastik sebesar hampir 2 ton per hari, maka secara kasar sumber daya yang dperoleh dari upaya recycle sampah plastik ini adalah 1.600 liter minyak setara premium/solar, nyaris satu tangki perhari. Bila di uangkan setara dengan uang senilai 10 juta rupiah per hari. Dari sisi lingkungan, hal yang paling menggembirakan adalah timbunan sampah plastik yang dapat mengancam masa depan lingkungan hidup dapat berkurang dengan cara yang aman dan relatif tidak menghasilkan pencemaran baru, sedangkan keuntungan ekonomi yang dihasilkan anggaplah sebagai bonus dari upaya keras menjaga lingkungan. Sambil menyelam minum air, Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

 

Referensi

http://olahsampah.com/index.php/teknologi/47-menyulap-sampah-plastik-menjadi-bbm-tidak-harus-mahal

https://indonesiaproud.wordpress.com/2011/12/01/tri-handoko-mengubah-limbah-plastik-jadi-bahan-bakar-minyak/

http://www.penggagas.com/sampah-plastik-jadi-bbm-dengan-proses-ini/

Purwaningrum, 2016. Upaya Mengurangi Timbulan Sampah Plastik di Lingkungan. Jurnal Teknik Lingkungan Vol.8 No. 2Universitas Trisakti Jakarta