Geologi, Topografi, Iklim dan Hidrologi TNBBBR

Puncak Bukit Raya
Puncak Bukit Raya (Doc. TNBBBR)

Berdasarkan Peta Tanah Propinsi Kalimantan Barat skala 1:500.000 (Lembaga Penelitian Tanah Bogor,1972), jenis tanah di kawasan TNBBBR, Kabupaten Sintang pada umumnya terdiri dari jenis tanah Podsolik Merah Kuning (Tanah Merah), Latosol (Tanah Merah), dan Litosol (Tanah Tanpa Diferensiasi Horizon), dengan bahan induk batuan beku endapan, batuan tuff dan metamorf. Sedangkan fraksi tanahnya kasar, permeable dan sangat mudah tererosi. Tanah lapisan atas umumnya granular dengan warna cenderung gelap dan kaya akan bahan organik. Sedangkan tanah pada lapisan bawah permukaan (subsoil) berwarna merah hingga kuning yang menandakan bahwa tanah tersebut tidak terdapat bahan organik dan mengandung oksida desie nematt (besi) atau geothine.  

Kawasan TNBBBR merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan dengan fisiografi berupa pegunungan patahan. Ketinggian daerah ini bervariasi antara 150–2.278 m dpl. Puncak-puncak yang memilki ketinggian diatas 1.400 m dpl yang berada di dalam kawasan Taman Nasional adalah Bukit Panjake (1.450 m dpl), Bukit Lesung (1.600 m dpl), Bukit Panjing (1.520 m dpl), Bukit Baka (1.617 m dpl), Bukit Melabanbun ( 1.850 m dpl), Bukit Asing (1.750 m dpl), dan Bukit Raya (2.278 m dpl). Kelerengan umumnya bervariasi antara datar, landai, agak curam dan curam. Dataran rendahnya merupakan kawasan landai dan berbukit. Topografi di bagian Selatan lebih landai dibandingkan dengan di bagian Utara dan sepanjang batas propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan tengah umumnya bertopografi curam (>40%).

Laporan akhir pengadaan Citra Landsat/Satelit Image pada kawasan ini (1985) terhadap hasil interpretasi penyadapan data ekstra landsat TMFCC skala 1:100.000 yang didukung dengan peta topografi skala 1:250.000, bentuk lapangannya dapat dibedakan menjadi sistem dataran seluas 2.901 Ha (1,6% dengan kemiringan antara 18-25%), perbukitan seluas 42.921 ha (23,7%) dengan kelerengan 30-75% dan pegunungan seluas 135.268 ha (74,7% dengan tingkat kelerengan 50-80%).

Bagian Utara dan Timur dari kawasan taman nasional ini memiliki kelerengan lebih dari 30%, dengan dinamika vegetasi terjadi secara alami. Akan tetapi berlawanan dengan keadaan pada bagian Selatannya yang berada pada ketinggian antara 150-300 m dpl. Kawasan pegunungan Schwaner merupakan batuan vulkanik yang terbentuk pada era tertier pertengahan. Analisis tanah yang dilakukan terhadap sampel yang diambil berupa jalur dari bagian timur taman nasional ini ke arah puncak Bukit Raya menunjukkan bahwa dengan meningkatnya ketinggian lahan terhadap permukaan laut, diketahui terdapat perbedaan jenis tanah berupa ferralsol–cambisol–acrisol–gleysol–histosol (Reuler, 1987), dengan kandungan hara tanah yang rendah.  Kawasan ini memiliki tipe iklim A (Schmidt dan Fergusson) dengan curah hujan rata-rata 2.757 mm per tahun. Temperatur rata-rata 19,5 0 C hingga 34,3 0 C, serta kelembaban udara relatif rata-rata 86%. Data iklim yang dicatat selama ini masih sangat terbatas. Hubungan antara cuaca pada lokasi pengamatan cuaca di Nanga Pinoh yang berjarak kurang lebih 75 km sebelah Barat Laut taman nasional ini masih belum jelas yang diduga karena terdapatnya pengaruh iklim lokal dari kawasan Pegunungan Schwaner. Hasil pengamatan selama 7 tahun di Nanga Pinoh menunjukkan curah hujan berkisar antara 2.935 – 4.071 mm per tahun, dengan kejadian hujan tertinggi antara bulan Oktober hingga Mei. Selanjutnya kawasan ini sangat dekat dengan ekuator yang sangat dipengaruhi oleh iklim musimam yang tercermin pada floranya. Pohon-pohon di dalam kawasan cenderung berbunga pada awal musim hujan dan buah mengalami kematangan pada akhir musim tersebut.  

Bentuk aliran sungai yang mengalir dari kawasan ini menuju sungai Katingan dan sungai Kahayan, secara umum dapat dinyatakan berupa corak bulu burung. Corak yang demikian, memiliki daerah pengaliran di kiri kanan sungai utama. Anak-anak sungainya mengalirkan air ke sungai utama dengan debit banjir yang kecil, akibatnya waktu tiba banjir dari anak-anak sungai tersebut berbeda-beda. Akan tetapi, banjir pada bagian hilirnya akan berlangsung relatif lama.  

Sungai-sungai yang sumber airnya berasal dari kawasan TNBBBR adalah : Sungai Ella Hulu, Sungai Juoi, Sungai Umbak, Sungai Sangkei, Sungai Mentatai, Sungai Serawai, Sungai Labang Labang, Sungai Jelundung, Sungai Lekawai dan Sungai Ambalau yang termasuk Sub DAS Melawi.  Sungai-sungai yang bermuara di Sub DAS Katingan adalah Sungai Bemban, Sungai Tai, Sungai Hiran, Sungai Samba dan Sungai Senamang.

Sumber : Statistik TNBBBR, 2009